Skip to main content
Perang melawan rasa bosan

Perang melawan rasa bosan

Merangkai kembali warna-warni yang mulai memudar di antara rutinitas.

Reading time: 6 min read

Masuk angin

Kiko merasa tidak enak badan. Bukan sakit, tapi juga jelas tidak sehat. Badannya terasa berat, kepalanya sedikit pening, dan yang paling parah, semangatnya seperti menguap entah ke mana. Ia menatap layar ponsel, scroll tanpa tujuan, tapi tak ada satu pun yang menarik hatinya. “Masuk angin, nih, kayaknya,” gumamnya pada diri sendiri.

Refleks pertamanya, seperti kebanyakan dari kita, adalah mencari solusi instan. Ia minta dikerok, lalu menenggak segelas jahe hangat. Untuk sesaat, ia merasa lebih baik. Punggungnya yang memerah seolah menjadi bukti bahwa “angin” jahat itu telah berhasil diusir.

Tapi keesokan harinya, perasaan itu kembali. Rasa hampa yang sama, ketidakberdayaan yang identik. Kiko mulai bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar cuma soal angin? Atau jangan-jangan, ini adalah sinyal dari sesuatu yang lebih dalam? Sinyal bahwa ia bukan sekadar masuk angin, tapi sudah lelah, lelah dengan rutinitas pekerjaan yang monoton, lelah dengan tagihan yang terus datang, lelah merasa berlari di tempat.

Kisah Kiko adalah kisah kebanyakan dari kita. Kita sering memperlakukan rasa bosan seperti masuk angin: sebuah gangguan sepele yang cukup diatasi dengan “kerokan” instan berupa hiburan digital. Padahal, bagaimana jika rasa bosan itu bukanlah penyakitnya, melainkan diagnosis awalnya? Sebuah sinyal dari tubuh dan jiwa bahwa ada yang salah, ada yang butuh perhatian lebih dari sekadar pengalih perhatian sesaat.

Tulisan ini adalah undangan untuk berhenti mengerok rasa bosan, dan mulai bertanya: “Sebenarnya, kenapa saya ‘masuk angin’?”

Sains & Psikologi

Belakangan ini saya banyak membaca tentang cara kerja otak, dan menemukan satu hal menarik. Rasa bosan ternyata bukan sekadar kekosongan. Ia adalah sinyal dari otak yang sedang kelaparan. Bukan lapar akan makanan, tapi akan makna.

Kita semua tahu rasanya. Mungkin saat membaca tulisan ini pun, ada notifikasi yang berkedip di sudut layar, menggoda untuk diklik. Atau jempol yang refleks ingin scroll ke bawah, mencari “sesuatu” yang baru. Setiap scroll dan like itu seperti gula-gula bagi otak. Suntikan dopamin instan yang manis tapi tak pernah benar-benar mengenyangkan. Inilah jebakan kita hari ini. Kita kenyang oleh hiburan, tapi lapar akan kepuasan batin.

Padahal, ada keajaiban kecil yang terjadi saat kita berani menahan diri untuk tidak meraih ponsel saat bosan. Otak kita memiliki mode istirahat yang disebut Default Mode Network (DMN). Saat mode ini aktif, biasanya saat kita melamun atau menatap langit-langit, otak justru sibuk menyambungkan ide-ide acak, memutar ulang kenangan manis, dan merajut mimpi masa depan. Di ruang sunyi inilah kreativitas seringkali lahir. Sayangnya, kita sering mematikan proses ini dengan distraksi sebelum ia sempat mekar.

Namun, rasa bosan berbeda dengan apatis. Bosan itu gelisah. Ada energi di sana, ada keinginan untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, apatis adalah ketiadaan rasa. Bukan cuma tak tertarik, tapi juga tak punya tenaga untuk mencari. Jika yang dirasakan adalah kekosongan yang melumpuhkan seperti ini, mungkin itu sinyal dari sesuatu yang lebih serius, dan tak ada salahnya untuk berbagi beban dengan orang lain.

Jiwa yang Lelah

Kadang, rasa bosan itu bukan karena kurang hiburan, tapi karena kita lelah. Lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja: bangun pagi, kerja, macet, pulang, tidur, ulangi lagi. Lelah dengan tanggung jawab yang rasanya tidak ada habisnya, seperti tagihan yang selalu datang tepat waktu atau ekspektasi orang lain yang harus dipenuhi. Ini bukan bosan yang bisa disembuhkan dengan nonton film. Ini adalah kelelahan jiwa yang bertanya, “Memangnya hidup cuma begini saja?”

Ada juga rasa bosan yang datang dari luar diri kita. Saat kita merasa tidak berdaya (powerless) melihat keadaan sekitar. Mungkin lelah dengan berita politik yang carut-marut, cemas dengan kondisi ekonomi, atau frustrasi karena merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak kita sukai tapi tidak bisa ditinggalkan. Rasa bosan di sini adalah bentuk penyerahan diri sementara. Sebuah cara bagi pikiran kita untuk berkata, “Ini terlalu berat, aku butuh istirahat sejenak dari semua ini.”

Dan yang paling dalam, rasa bosan bisa menjadi topeng untuk luka emosional. Saat kita bilang “aku bosan”, mungkin yang sebenarnya kita rasakan adalah “aku sedih,” “aku cemas,” atau “aku kecewa.” Rasa bosan menjadi cara aman untuk menghindari perasaan yang lebih menyakitkan seperti penyesalan, trauma, atau rasa sepi yang menumpuk. Ini adalah “bosan menderita,” sebuah kondisi di mana jiwa kita sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun, sehingga ia memilih untuk tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Mendiagnosis Sunyi

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin kita perlu berhenti menyatakan “perang” terhadap rasa bosan. Perang itu melelahkan dan seringkali salah sasaran. Bagaimana kalau kita ganti pendekatannya? Bukan perang, tapi diagnosis.

Daripada buru-buru mencari obat, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: “Sebenarnya, bosan yang saya rasakan ini jenis yang mana? Apakah ini ‘bosan ringan’ karena kurang mainan, atau ‘bosan berat’ karena jiwa yang lelah?”

Jika ini sekadar “bosan ringan”, mungkin obatnya sederhana: diam. Alih-alih langsung meraih ponsel, kita bisa mencoba membiarkan pikiran melamun barang lima menit. Membiarkan Default Mode Network itu bekerja. Siapa tahu, di tengah keheningan itu, ide-ide iseng justru muncul. Atau mungkin, ini saatnya memberi izin pada diri sendiri untuk melakukan hal-hal “tidak penting” yang selama ini tertunda, entah itu belajar gitar dari YouTube atau sekadar jalan-jalan sore tanpa tujuan.

Namun, jika yang dirasakan adalah “bosan berat” atau kelelahan eksistensial, solusinya mungkin tidak sesederhana mencari hobi baru. Ini bukan lagi soal “apa yang harus dilakukan,” tapi soal “bagaimana bisa merasa hidup lagi.”

Seringkali, rasa berdaya itu kembali lewat hal-hal kecil. Bukan perubahan drastis dalam semalam, tapi aksi mikro yang bisa kita kontrol sepenuhnya. Merapikan satu laci meja, membaca satu halaman buku, atau menyelesaikan satu tugas kecil. Kemenangan-kemenangan kecil ini, meski remeh, adalah bukti bahwa kita masih punya kendali.

Dan di atas segalanya, rasa hampa seringkali diperparah oleh isolasi. Terhubung kembali dengan manusia lain, teman lama atau keluarga bisa menjadi penawar yang ampuh. Bahkan, mengakui bahwa “saya tidak baik-baik saja” kepada profesional adalah langkah berani, bukan tanda kelemahan.

Mencari Keseimbangan di Tengah Kekosongan

Pada akhirnya, “perang melawan rasa bosan” seringkali adalah perang yang salah alamat. Mungkin musuh sebenarnya bukanlah rasa bosan itu sendiri, melainkan kondisi-kondisi yang membuat hidup kita terasa hampa, melelahkan, dan tidak bermakna.

Jadi, lain kali “angin” rasa bosan itu datang, mungkin kita tidak perlu buru-buru mengeroknya dengan distraksi. Kita bisa berhenti sejenak dan mendengarkan. Mungkin ia tidak datang untuk mengganggu. Mungkin ia datang membawa sebuah undangan. Undangan untuk bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: “Apa yang sesungguhnya aku butuhkan untuk merasa hidup kembali?”

Get in Touch

I'm currently available for freelance work. Let me know how I can help.